Kepala BPOM: Pencemaran EG dan DEG Hingga 90% pada Bahan Pelarut Obat Palsu

“Ada drum di situ di labelnya dan kelihatan sekali kalau palsu, disebutkan isinya Polietilena glikol yang seharusnya konsentrasinya 0,1% EG dan DEG. Kemudian kita sampling kita uji ternyata 90% adalah Etilen glikol dan dietilen glikol,” terang Penny.

“Jadi betul-betul suatu kejahatan ini,” tambahnya.

BACA JUGA:  Tagar Allegri Out Ramai di Twitter, Usai Juventus Dikalahkan Fiorentina Tanpa Shot on Target

pencemaran EG dan DEG
EG dan DEG adalah bahan yang ada pada pelarut pembuat obat-obatan, dengan batas aman pencemarannya 0,1%. (Ilustrasi: Freepik/wirestock)

Ditanya soal pencemaran bahan pelarut ini adalah aksi yang terorganisir, Penny memberikan keterangan bahwa saat ini sedang dilakukan penelusuran soal unsur kesengajaan yang dilakukan oleh distributor.

Terkait dengan 5 perusahaan yang sertifikat Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB) dicabut, Penny menjelaskan industri farmasi memiliki kewajiban untuk melakukan uji terhadap pasokan bahan baku sebelum digunakan untuk membuat obat.

Ia mencontohkan ada perusahaan lain yang mendapatkan batch bahan baku dengan tingkat pencemaran EG dan DEG melebihi ambang batas kemudian dikembalikan ke distributor, sehingga sertifikasinya pun masih aman.

Penny juga menambahkan bahwa 5 perusahaan farmasi yang izinnya dicabut oleh BPOM sebenarnya sudah langganan masuk ke dalam daftar rapor merah milik BPOM.

Agar kejadian pencemaran EG dan DEG yang melebihi batas aman konsumsi manusia ini tidak terulang kembali, Penny berkomitmen untuk terus melalukan reformasi di badan BPOM termasuk soal regulasi-regulasi. ****

HARIANE.COM menerima rilis dan artikel serta karya fiksi untuk diterbitkan. Dikirimkan malalui email: redaksihariane@gmail.com