Pengembangan EBT di Indonesia Terus Dilakukan, Begini Upaya Pemerintah Melalui Program Bioetanol

HARIANE – Pengembangan EBT di Indonesia semakin digenjot seiring upaya penggantian bahan bakar berbasis fosil.

Optimalisasi dalam pengembangan EBT di Indonesia juga tidak semerta-merta mudah dilakukan, pasalnya perekonomian global diprediksi masih belum stabil akibat perang Rusia-Ukraina.

Kondisi yang tidak stabil mengharuskan pemerintah Indonesia melakukan peninjauan ulang terkait pengembangan EBT di Indonesia.

Adanya latar belakang dunia yang masih menggantungkan bahan bakar fosil, dengan masalah pasokan energi terbatas akibat perang, berdampak pada naiknya harga minyak.

BACA JUGA:  Vaksin Booster Kedua Covid-19 Mulai 24 Januari, Bagaimana Aturan Dosis Vaksin? Simak Disini

Indonesia sendiri masih belum mampu untuk swasembada terkait produksi minyak.

Melansir laman Pemerintah Indonesia, produksi migas masih sering tidak memenuhi target, seperti pada 2022.

Target produksi yang ditetapkan APBN 2022 sebesar 660.000 barel per hari, namun nyatanya hanya mencapai 612.712 barel per hari.

Sehingga untuk menyelesaikan masalah tersebut, perlu pengembangan EBT di Indonesia sebagai sumber bahan bakar alternatif.

Energi baru dan terbarukan (EBT) yang digunakan berupa bahan bakar nabati (BBN), sehingga BBN menjadi hal yang harus dikembangkan potensinya.

Berbagai cara dilakukan untuk memperoleh produk pengganti BBM, yakni melalui program biodesel-35 (B-35) serta bioetanol, semula 5 persen (E5) hingga E20.

Salah satu opsi konversi BBM adalah menjadikan bioetanol berbasis tebu, program tersebut memiliki target peningkatan bioetanol dari 5 persen pada BBM, menjadi E10, E20, dan seterusnya.

HARIANE.COM menerima rilis dan artikel serta karya fiksi untuk diterbitkan. Dikirimkan malalui email: redaksihariane@gmail.com