Review Buku Puisi Cuaca Buruk Sebuah Buku Puisi Karya Ibe S. Palogai, Mencari Kearifan Lokal dalam Baluran Romantisme

HARIANE – Membaca dan membuat review buku puisi Cuaca Buruk Sebuah Buku Puisi seperti membaca sejarah dan kearifan lokal yang segar. Tidak semua sejarah identik dengan debu dan usang. 

Hanya ada beberapa yang abadi dan tidak lepas dari peperangan dan sejarah; kekalahan serta kemenangan. Seperti yang pernah dikatakan Soesilo Toer, “Sejarah hanyalah untuk para pemenang”, Ibe S. Palogai merangkai puisi-puisi kekalahannya untuk dibagi pada para pembaca. 

Perang adalah kekuasaan bagi manusia untuk mendapat kejelasan dalam banyak hal, tidak lepas di dalamnya adalah kebudayaan dan kebiasaan-kebiasaan yang sangat lekat pada masyarakat.

Seluruh peristiwa itu berhasil dirangkumnya menjadi empat puluh puisi. Review buku puisi Cuaca Buruk Sebuah Buku Puisi memiliki kesan tersendiri.

Buku puisi ini dikonstruksi sedemikian rupa supaya pembaca mampu mengarungi lautan darah, kekalahan, dan kemuraman dari perang. Disajikan dengan ciamik oleh seorang penyair Bugis, Ibe S. Palogai. 

Kesan yang dibuat dari buku puisi milik Ibe S. Palogai membuat pembaca mengerti betapa cinta dan perang memang tidak jauh berbeda; sama-sama memakan korban. 

BACA JUGA:  Yuk, Penting Mengetahui Sejarah dan Cara Memperingati Hari Buku Sedunia Sebagai Upaya Peningkatan Literasi

Review Buku Puisi Cuaca Buruk Sebuah Buku Puisi: Mengenalkan Bahasa Daerah

Review buku puisi Cuaca Buruk Sebuah Buku Puisi
Review buku Puisi Cuaca Buruk Sebuah Buku Puisi, salah satu nominasi Kusala Sastra Khatulistiwa. (Foto: Instagram/GPU)

Kemasan puisi yang disajikan seorang Ibe dengan konsisten memakai banyak nama-nama dan bahasa-bahasa daerah seperti Walasuji dan Ininnawa yang merupakan identitas dari Ibe sendiri yang asli Makassar. 

HARIANE.COM menerima rilis dan artikel serta karya fiksi untuk diterbitkan. Dikirimkan malalui email: redaksihariane@gmail.com