HARIANE - Sebagai orang Indonesia, khususnya Yogyakarta masih memegang kepercayaan terhadap cerita-cerita masa lampau atau mitos. Tentu, kepercayaan ini akan sulit jika dipikir secara nalar dan logika.
Akan tetapi, dengan adanya kepercayaan terhadap suatu peristiwa oleh masyarakat di daerah menjadi cerita unik tersendiri.
Bagi sebagian besar masyarakat di Kabupaten Bantul, tentu tidak asing lagi dengan mitos legenda perempatan Palbapang. Lekat dibenak masyarakat, ternyata mitos perempatan Palbapang diawali dari kisah Ki Ageng Mangir.
Ki Ageng Mangir yang juga merupakan tokoh dibalik asal-usul Palbapang. Ki Ageng Mangir adalah musuh sekaligus menantu dari Panembahan Senopati, raja pertama Kerajaan Mataram.
Ia merupakan sosok mandraguna dan memiliki pusaka tombak bernama Kiai Baru Klinting. Ki Ageng Mangir menolak untuk tunduk kepada Panembahan Senopati. Hal ini menimbulkan permusuhan antara keduanya.
Panembahan Senopati yang ingin menguasai Mangir, menggunakan siasat untuk menaklukkan Ki Ageng Mangir. Putri Pembayun, Putri Panembahan Senopati diperintahkan untuk menyamar sebagai penari tayub dan dikirim ke Mangir untuk mendekati Ki Ageng Mangir.
Siasat itupun berhasil, bahkan Ki Ageng Mangir jatuh cinta hingga menikahi Putri Pembayun.
Setelah beberapa lama, identitas Putri Pembayun pun terungkap. Meskipun marah, Ki Ageng Mangir akhirnya bersedia menemui Panembahan Senopati di Mataram.
Kala itu, Ki Ageng Mangir berjalan dari Mangir ke arah timur menuju Mataram. Sesampainya di sebuah desa, ia mendapatkan bisikan dari tombak saktinya yang meminta untuk membatalkan perjalanan.
Bila Ki Ageng Mangir tetap melanjutkan perjalanan, nyawanya akan dipal (dipastikan) melayang. Namun, meskipun sudah mendapatkan peringatan tersebut, Ki Ageng Mangir tetap bersikukuh melanjutkan perjalanan.
Sebelum melanjutkan perjalanan, Ki Ageng Mangir sempat menamai tempat peristirahatan dengan nama Palbapang. Palbapang sendiri berasal dari kata pal atau ngepal.
Ditengah perjalanan, Ki Ageng Mangir teringat dengan bisikan pusakanya. Dia sadar, Panembahan Senopati adalah musuhnya, akan tetapi disisi lain ia menyadari sebagai menantu, dia harus berbakti kepada sang mertua.