Nadiem Makarim Luncurkan Transformasi Seleksi Masuk PTN, Lebih Fokus Pada Skolastik dan Penalaran di 2023

HARIANE – Kementerian Pendidikan, Kebudayaam, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek), Nadiem Makarin luncurkan transformasi seleksi masuk PTN.

Transformasi seleksi masuk PTN yang dimaksud terbagi menjadi tiga yaitu seleksi nasional berdasarkan prestasi atau SNMPTN, seleksi nasional berdasarkan tes atau SBMPTN, dan seleksi mandiri oleh PTN.

Nadien Makarim telah menyusun transformasi seleksi masuk PTN yang diluncurkan melalui Merdeka Belajar Episode Dua Puluh Dua pada kanal Youtube Kemendikbud RI.

BACA JUGA:  TKA Dihapus dari UTBK SBMPTN 2023, Begini Aturan Terbaru Seleksi SNMPTN, dan Jalur Mandiri

“Kita ingin transformasi seleksi masuk PTN ini semakin menyempurnakan mekanisme-mekanisme yanpg sebelumnya sudah ada,” ucapnya pada siaran langsung di kanal Youtube Kemendibudristek RI.

Terdapat 5 prinsip perubahan yang dilakukan pada seleksi masuk PTN, diantaranya sebagai berikut:

1. Pembelajaran yang terjadi di sekolah adalah pembelajaran yang menyeluruh dan mendalam.

2. Lebih fokus bukan kepada pemadatan materi tetapi fokus kepada kemampuan penalaran.

3. Lebih inklusif, yakni mengeliminasi diskriminasi antara yang punya tingkat sosial ekonomi lebih tinggi dan yang mungkin masih punya kebutuhan dari sisi ekonomi.

4. Lebih transparan dan terintegrasi dengan berbagai macam program dan cita-cita.

5. Lebih terintegrasi dengan mencakup bukan hanya program sarjana, tetapi juga diploma tiga dan diploma empat/sarjanan terapan.

Transformasi seleksi nasional berdasarkan prestasi (SNMPTN)

pengumuman hasil SNMPTN 2022
Transformasi seleksi masuk PTN yang lebih adil diharapkan dapat mendorong perbaikan iklim pembelajaran di pendidikan menengah sehingga menghasilkan calon mahasiswa yang semakin kompeten. (Ilustrasi: Instagram/ ltmptofficial)

Pada seleksi nasional berdasarkan prestasi, Mendikbudristek menjelasakan bahwa seleksi akan berfokus pada penghargaan tinggi atas kesuksesan pembelajaran yang menyeluruh di pendidikan menengah.

Hal ini dilakukan dengan pemberian bobot minimal 50% untuk nilai rata-rata rapot seluruh mata pelajaran. Sedangkan untuk pembobotan sisanya, maksimal 50% diambil dari penggali minat dan bakat berupa nilai rapor maksimal 2 mata pelajaran pendukung, prestasi, dan portoofolio (seni dan olahraga).

“Dengan demikian, peserta didik didorong untuk fokus pada keseluruhan pembelajaran serta menggali minat dan bakatnya sejak dini. Nantinya peserta didik diharapkan agar menyadari bahwa semua mata pelajaran adalah penting dan agar mereka membangun prestasinya sesuai minat dan bakat,” ujar Mendikbudristek.