Marak Kasus Startup PHK Massal Karyawannya, Ternyata Ini Alasan yang Mendasari Fenomena Tersebut
Dengan begitu membuat Venture Capital (VC) dan investor mulai membatasi pendanaannya pada startup. Namun, kondisi tersebut berbanding terbalik dengan kebiasaan startup yang bakar-bakar uang untuk mempercepat pertumbuhan perusahaan rintisan tersebut. Dimana aktivitas tersebut, tentunya membutuhkan dana yang sangat besar.Selain ketidakpastian kondisi ekonomi dan politik, alasan startup PHK massal karyawannya juga didasari pada daya beli masyarakat yang menurun.Daya beli masyarakat yang menurun disebabkan oleh harga barang yang terus naik, akibat inflasi yang mengalami kenaikan juga. Alhasil, kebiasaan masyarakat yang dulunya bisa membeli barang dengan lebih banyak. Kini barang yang bisa dibeli menjadi lebih sedikit. Perubahan daya beli masyarakat yang cenderung menurun ini tentunya akan mengurangi omzet dan laba perusahaan. Sebab itulah, perusahaan harus melakukan cost efficiency dengan memangkas biaya operasional. Caranya dengan menutup unit bisnis yang tidak menguntungkan atau mengurangi gaji karyawannya.Selain itu, hal yang mudah sekaligus sulit untuk dilakukan adalah melakukan PHK karyawannya.
Benarkah Startup PHK Massal Karyawannya Berkaitan dengan Dotcom Bubble?
Kasus startup PHK massal karyawannya mirip dengan fenomena Dotcom Bubble yang terjadi di awal tahun 2000-an. (Foto: Pexels/Burak The Weekender)Selain kedua alasan yang disampaikan Felicia di atas, nyatanya banyak juga yang menghubungkan kasus startup PHK massal karyawannya dengan fenomena Dotcom Bubble yang terjadi di awal tahun 2000-an. Perusahaan rintisan yang mulai populer pada tahun 2000-an faktanya memang mirip dengan fenomena Dotcom Bubble. Dimana kedua mempunyai pertumbuhan ekonomi dan nilai pasar yang melonjak tinggi.Sayangnya, kebanyakan perusahaan teknologi yang terlalu hype tersebut dinilai overvalued dengan performa yang kurang. Sehingga membuat aksi jual besar-besaran terjadi.